" />

KORAN KAMPUS IPB

Dengan Pena Menjerat Berita Mengguncang Dunia

RASSA, Produksi Ke-17

November 24th, 2011

 

Oleh : Rheza Ardiansyah

Komunitas adalah salah satu organ yang menjaga nadi seni selalu teraliri darah apresiasi. Selama tiga tahun terakhir, langit berkesenian Bogor, khususnya di kampus IPB meriah dengan berbagai acara bentukan Komunitas Wahana Telisik Seni dan Sastra. Komunitas yang penggiatnya kebanyakan berstatus mahasiswa di kampus pertanian itu rutin menggelar Ruang Apresiasi Seni dan Sastra (RASSA). Hingga sehari sebelum hari pahlawan diperingati, RASSA sudah digelar sebanyak 17 kali. Di RASSA edisi mutakhir tadi, suasana terasa lebih spesial karena di dalamnya juga dimeriahkan dengan prosesi peringatan hari jadi komunitas WTS yang harus diselebrasi tanggal 28 Oktober, bertepatan dengan peringatan hari sumpah pemuda. Malam itu RASSA juga mengapresiasi dua puisi dan sebuah film berjudul Life Is Beautiful.

Pluralisme menjadi tema sentral perayaan berekspresi seni malam itu. Diana membuka gelaran dengan pembacaan puisi. Bada diskusi karya setelahnya, ditontonkanlah film asal Italia karya Roberto Benigni, Life Is Beautiful. Film itu bisa jadi film paling romantis sekaligus karya audio visual yang paling merogoh nurani penontonnya. Di awal durasi, film itu memperlihatkan adegan-adegan komedis pun romantis. Kisah perjuangan Guido si tokoh utama merebut Dora menjadi alur berwarna pink yang punya posisi sendiri di gudang cerita mengenai topik tentang asmara. Alkisah dua sejoli tadi menikah dan membuahkan seorang anak, Yosua. Malang, harmonisnya keluarga Yahudi kecil tadi harus terusik eksploitasi NAZI atas ras itu. Guido dan Yosua anaknya ditempatkan di tempat penampungan yang sama, sementara Dora merelakan diri dikurung di kamp konsentrasi juga, meski sebenarnya dia tidak termasuk daftar orang yang harus diseret NAZI. Perjuangan Guido meyakinkan anaknya bahwa suasana kamp konsentrasi yang penuh tekanan hanyalah permainan adalah deskripsi kata “merogoh nurani” diatas. Deret aksi di bagian itulah yang menjabarkan judul film ini. Hidup indah saat kita memandang dengan paradigma yang tepat.

Diskusi tentang Life Is Beautiful kemudian digelar. Fatkurrahman Abdul Karim memaparkan ironi hubungan realita dan temuan buah pikir di Eropa yang tergambar di film itu. Menurut sastrawan yang lebih dikenal dengan panggilan Pak De itu, Eropa sebenarnya menghadapi kontradiksio interminis di dalamnya. Kala para pemikir humanis lahir dari sana, penyelewengan atas nilai kemanusiaan justru terjadi disana juga. Pak De menyatakan bahwa dalam buku karya Doni Garal Ardian, dinyatakan bahwa Martin Heidegger punya andil spesial bagi aksi genosida NAZI terhadap kaum yahudi, padahal Heidegger dikenal sebagai filsuf yang merumuskan nilai-nilai humanisme. Lebih parahnya, Heidegger adalah guru dari Jacques Derrida, filsuf yang di dalam nadinya mengalir darah Yahudi.

Rheza Ardiansyah, salah satu hadirin RASSA kali itu justru mengaitkan gambaran di film Life Is Beautiful dengan kondisi di tanah Papua. Menurutnya mungkin saja disana drama demikian tergambar dalam realita, mengingat konflik soal Freeport masih membara. Terlebih Rheza memaparkan konflik itu terjadi dalam kemelut soal Freeport yang membara disana. Fantasi Rheza ditutup paparan Ardy Cresna Crenata, aktivis WTS yang baru saja meraih piala juara pertama kompetisi buku indie bahwa film, seperti halnya cerpen dan karya seni lain, film memang harus menampilkan sesuatu yang sulit dihadirkan. Menurutnya benar atau tidak tragedi dalam film itu bukan lagi hal yang penting. Poinnya adalah situasi demikian mungkin terjadi dan perlu diantisipasi.

Sebuah kisah inspiratif diceritakan Mas Mo sebagai sampiran simpulannya. Cerita tentang seorang tua yang dianugerahi surga karena dia telah melewati hidup tanpa keluhan ditutup seniman sekaligus wirausahawan itu dengan sebuah kalimat penutup. Bersenang-senang dahulu, lebih bersenang-senang lagi kemudian. Demikian kesimpulannya tentang film yang mengajarkan penontonnya menikmati semua perjuangan hidup itu. Di akhir diskusi, seorang peneliti asal Universitas Indonesia, Bayu A. Yulianto, menyimpulkan bahwa persoalan fasisme, dalam bentuk apapun akan menjadi hal yang berbahaya.

Sesi penutup RASSA malam itu adalah pembacaan puisi oleh Bara. Acara kemudian berlanjut ke pemotongan tumpeng bersama sebagai wujud syukur atas keberlanjutan komunitas ini hingga beberapa anggotanya meraih beberapa pencapaian artistik. Dalam sambutannya, Pak De memotivasi penggiat seni yang hadir malam itu untuk terus berkarya. Pria berambut gondrong itu bahkan mengutip pernyataan Mohammad Marzuki dari Jogja Hiphop Foundation bahwa proposal seorang seniman adalah karyanya.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*