" />

KORAN KAMPUS IPB

Dengan Pena Menjerat Berita Mengguncang Dunia

Lokakarya KM

February 20th, 2012

Sinergitas dan Transparansi antarlembaga Kemahasiswaan

Salah seorang perwakilan dari Fakultas Teknologi Pertanian (Fateta) pada Minggu (19/02) memaparkan Grand Desain Tahun 2012 dalam acara Loka Karya KM IPB. Dalam penjelasannya, komitmen pengurus LK serta jargon ‘Fateta solid ‘ belum menjadi hal yang real dalam diri mahasiswa Fateta itu sendiri.
 
***

Hujan yang mengguyur sejak pagi tidak menurunkan semangat para mahasiswa penggiat kegiatan di tataran kampus untuk menghadiri acara Lokakarya KM IPB 2012, Minggu (19/2) di Auditorium Toyib Hadiwijaya.

Kegiatan yang dimulai pukul 08.40 WIB ini diikuti perwakilan lembaga kemahasiswaan (LK.red) kampus seperti DPM, BEM, UKM, dan Himpro. Total ada 96 LK yang ada di IPB, namun tidak semua dari LK yang ada yang mengikuti lokakarya ini.

‘IPB Prima Organisasi Menuju Prima Prestasi’ merupakan tema yang diangkat kali ini. Dari tema ini diharapkan tercipta kesamaan dalam arah pergerakan mahasiswa. “Perlu ada kesepakatan untuk menyelaraskan kegiatan antarfakultas agar ke depannya, kegiatan tidak tumpang tindih,” tutur Arfandiwangsa, Ketua Seminar dan Lokakarya KM IPB 2012, ketika dihubungi di tempat terpisah.

Pemaparan Grand Design dari tiap perwakilan BEM Fakultas yang baru saja dibentuk menjadi menu pembuka pada kegiatan ini, tidak terkecuali BEM Diploma dan BEM TPB. Grand Design inilah peta kegiatan BEM selama satu tahun kepengurusan. Para perwakilan ini, selain menyampaikan agenda kegiatan, timeline, dana yang dibutuhkan, dan tujuan kegiatannya, juga memaparkan Himpro yang ada di bawahnya. Himpro-himpro ini diharapkan bisa fokus pada bidang keahliannya masing-masing, karena dialah salah satu ujung tombak utama dalam proses pencapaian IPB Prima Prestasi.

Setelah break siang, panitia menghadirkan tiga orang pembicara. Tampil sebagai pembicara, Dr Rimbawan selaku Ketua Direktorat Kemahasiswaan IPB, menyampaikan seputar kebijakan dan kondisi kemahasiswaan kampus, Ketua BEM KM IPB 2009-2010 Ach. Firman Wahyudi memaparkan bagaimana membentuk organisasi berkarakter, dan Sekretaris Jendral MPM KM IPB 2012 Puspasari menyampaikan evaluasi kegiatan LK 2010-2011.

Kegiatan Lokakarya KM IPB mencapai puncaknya pada saat presentasi mengenai alokasi dana lembaga kemahasiswaan. Dari tahun ke tahun forum ini selalu menimbulkan keluhan-keluhan dari berbagai UKM karena kurangnya transparansi dana dari pihak DPM KM.

Total dana yang diberikan Direktorat Kemahasiswaan (Ditmawa) mencapai satu milyar rupiah. 35% digunakan untuk lembaga pusat, sedangkan 65% dibagikan ke seluruh fakultas. Dana tersebut tidak dikenai pajak dan seluruhnya akan dikelola mahasiswa.

Pusat mendapat dana sebesar 350 juta. MPM KM memperoleh 12,2 juta, DPM KM memperoleh 41 juta, BEM KM memperoleh 98,8 juta, sedangkan sisanya 198 juta untuk UKM dan masing-masing mendapat jatah 6 juta.

Fakultas mendapat dana sebesar 650 juta yang akan dibagikan ke sembilan fakultas di S1, TPB, dan Diploma. Pembagian dana berdasarkan fix cost sebesar 50 juta dan variabel yang ditentukan oleh jumlah mahasiswa dan lembaga di fakultas tersebut.

Pertanyaan soal transparansi dana muncul dari berbagai pihak, salah satunya dari Yana, bendahara UKM Lawalata. Pihak DPM KM mengaku belum mendapatkan sistem yang ideal untuk mengatur pendanaan sehingga pendaan tahun ini diatur berdasarkan data kebutuhan tahun lalu.

Penolakan pembagian dana muncul dari berbagai pihak. Usaid dari BEM Fapet berpendapat, “Tidak semua UKM sama. Untuk pendanaan harus melihat track record dari masing-masing UKM supaya adil.”

Beberapa saran mengenai sistem pendanaan muncul dari berbagai pihak diantaranya dari UKM Lawalata, KSR PMI, dan BEM FEM. Mulai dari penggunaan perbandingan presentase kebutuhan, pembagian berdasarkan struktural kelembagaan, hingga meminta saran dari pihak luar yang lebih bijak seperti dosen.

Untuk saat ini pihak DPM KM akan menampung semua aspirasi yang ada. Pendanaan untuk BEM KM dan UKM akan ditinjau ulang pada sidang berikutnya. Hujan yang mengguyur sejak pagi tidak menurunkan semangat para mahasiswa penggiat kegiatan di tataran kampus untuk menghadiri acara Lokakarya KM IPB 2012, Minggu (19/2) di Auditorium Toyib Hadiwijaya.

Kegiatan yang dimulai pukul 08.40 WIB ini diikuti perwakilan lembaga kemahasiswaan (LK.red) kampus seperti DPM, BEM, UKM, dan Himpro. Total ada 96 LK yang ada di IPB, namun tidak semua dari LK yang ada yang mengikuti lokakarya ini.

‘IPB Prima Organisasi Menuju Prima Prestasi’ merupakan tema yang diangkat kali ini. Dari tema ini diharapkan tercipta kesamaan dalam arah pergerakan mahasiswa. “Perlu ada kesepakatan untuk menyelaraskan kegiatan antarfakultas agar ke depannya, kegiatan tidak tumpang tindih,” tutur Arfandiwangsa, Ketua Seminar dan Lokakarya KM IPB 2012, ketika dihubungi di tempat terpisah.

Pemaparan Grand Design dari tiap perwakilan BEM Fakultas yang baru saja dibentuk menjadi menu pembuka pada kegiatan ini, tidak terkecuali BEM Diploma dan BEM TPB. Grand Design inilah peta kegiatan BEM selama satu tahun kepengurusan. Para perwakilan ini, selain menyampaikan agenda kegiatan, timeline, dana yang dibutuhkan, dan tujuan kegiatannya, juga memaparkan Himpro yang ada di bawahnya. Himpro-himpro ini diharapkan bisa fokus pada bidang keahliannya masing-masing, karena dialah salah satu ujung tombak utama dalam proses pencapaian IPB Prima Prestasi.

Setelah break siang, panitia menghadirkan tiga orang pembicara. Tampil sebagai pembicara, Dr Rimbawan selaku Ketua Direktorat Kemahasiswaan IPB, menyampaikan seputar kebijakan dan kondisi kemahasiswaan kampus, Ketua BEM KM IPB 2009-2010 Ach. Firman Wahyudi memaparkan bagaimana membentuk organisasi berkarakter, dan Sekretaris Jendral MPM KM IPB 2012 Puspasarimenyampaikan evaluasi kegiatan LK 2010-2011.

Kegiatan Lokakarya KM IPB mencapai puncaknya pada saat presentasi mengenai alokasi dana lembaga kemahasiswaan. Dari tahun ke tahun forum ini selalu menimbulkan keluhan-keluhan dari berbagai UKM karena kurangnya transparansi dana dari pihak DPM KM.

Total dana yang diberikan Direktorat Kemahasiswaan (Ditmawa) mencapai satu milyar rupiah. 35% digunakan untuk lembaga pusat, sedangkan 65% dibagikan ke seluruh fakultas. Dana tersebut tidak dikenai pajak dan seluruhnya akan dikelola mahasiswa.

Pusat mendapat dana sebesar 350 juta. MPM KM memperoleh 12,2 juta, DPM KM memperoleh 41 juta, BEM KM memperoleh 98,8 juta, sedangkan sisanya 198 juta untuk UKM dan masing-masing mendapat jatah 6 juta.

Fakultas mendapat dana sebesar 650 juta yang akan dibagikan ke sembilan fakultas di S1, TPB, dan Diploma. Pembagian dana berdasarkan fix cost sebesar 50 juta dan variabel yang ditentukan oleh jumlah mahasiswa dan lembaga di fakultas tersebut.

Pertanyaan soal transparansi dana muncul dari berbagai pihak, salah satunya dari Yana, bendahara UKM Lawalata. Pihak DPM KM mengaku belum mendapatkan sistem yang ideal untuk mengatur pendanaan sehingga pendaan tahun ini diatur berdasarkan data kebutuhan tahun lalu.

Penolakan pembagian dana muncul dari berbagai pihak. Usaid dari BEM Fapet berpendapat, “Tidak semua UKM sama. Untuk pendanaan harus melihat track record dari masing-masing UKM supaya adil,”.

Beberapa saran mengenai sistem pendanaan muncul dari berbagai pihak diantaranya dari UKM Lawalata, KSR PMI, dan BEM FEM. Mulai dari penggunaan perbandingan presentase kebutuhan, pembagian berdasarkan struktural kelembagaan, hingga meminta saran dari pihak luar yang lebih bijak seperti dosen.

Untuk saat ini pihak DPM KM akan menampung semua aspirasi yang ada. Pendanaan untuk BEM KM dan UKM akan ditinjau ulang pada sidang berikutnya.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*